Perjalanan Hidup

Melihat kebelakang tidak selalu akan menghambat perjalanan, dengan melihat kebelakang kita akan lebih mantap melanjutkan perjalanan karena banyak hal di belakang yang bisa mendorong kita untuk berjalan lebih cepat untuk mencapai tujuan.

Saya (author), manusia biasa yang di lahirkan di sebuah desa bernama singapadu, desa yang di kenal dengan kesenianya dimana disinilah lahir seniman2 bali yang sangat ternama, desa yang menjadi acuan dalam berbagai hal seni(arja, tari, ukir, patung dan seni lainya).Sangat bangga di lahirkan di desa ini tapi juga sedih karena tidak ada bakat seni mengalir dalam darah ini. Tapi hal itu bukan suatu hambatan, hidup akan berjalan terus seiring dengan waktu, kita harus jalani dengan dengan percaya diri menatap masa depan.

Lahir di keluarga sederhana, apah dan ibu yang menyekolahkan saya dengan perjuangan yang sangat keras, banting tulang dengan berjualan, sangat jauh dari kehidupan yang mapan. Membantu orang tua berjualan bukan hal yang asing lagi, karena kesederhanaan itulah saya sempat menjadi orang yang sangat minder dalam pergaulan dan sangat kurang percaya diri. Puncaknya ibu di panggil yang maha kuasa dan usaha keluarga pun ditutup karena ibulah tulang punggung usaha itu.

Bertolak dari hal itulah saya bertekad saya harus bisa dan berhasil dalam hidup, dalam petunjuk NYA saya di terima bekerja di sebuah hotel bintang lima di jimbaran, dalam kurun waktu itupun saya berkesempatan mengenyam hidup di Singapore selama enam bulan dimana saya di tunjuk untuk melakukan cross exposure training oleh hotel tempat saya bekerja. Hidup berjalan terus dan saya menikahi istri saya (raka noviarini) pada usia 26 dan dikaruniai 2 orang anak(ojus dan luna). Waktu berjalan dan saya ditawari untuk bekerja di salah satu hotel di carribean dan saya tidak menyianyiakan kesempatan itu.Dalam kurun waktu itupun saya sempat mengundurkan diri dari hotel itu karena si luna (putri saya lahir), dan saya di tawari kerja di salah satu hotel di bali yang masih dalam satu rantai dengan tempat kerja saya di carribean. Berselang enam bulan seiring dengan kebutuhan yang semakin meningkat saya di panggil lagi untuk bekerja di tempat yang dulu (carribean) dan tanpa panjang kata saya ambil kesempatan itu, sampai sekarang.

Itulah sekelumit perjalanan hidup saya,hal kecilĀ  yang bisa saya ambil dari cerita tadi adalah kesederhanan bukan hambatan dalam pergaulan dan meraih kesuksesan, dengan bekal pengalaman hidup kita akan lebih mantap dalam menjalani hidup ini. Tekad saya selalu menyala nyala untuk memberikan hal yang terbaik untuk keluarga sehingga anak anak saya bisa lebih sukses dari saya tentunya dengan restu dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa.